Rabu, 27 Januari 2010

Cara Melatih Anak Mengelola Uang Saku

Cara Melatih Anak Mengelola Uang Saku
Materi Siaran Dharma Wanita Persatuan Inspektorat Kab. Purbalingga
Radio Suara Perwira ( 29 januari 2010 ) Oleh Ny. Nani Herawati Supatno

Mengajar anak-anak tentang bagaimana menjadi bendahara yang bijak dalam menangani sumber penghasilan mereka merupakan pokok yang penting yang harus diajarkan oleh orang tua.  Dan cara yang baik untuk mulai mendidik mereka di dalam hal ini ialah dengan melatih mereka tentang bagaimana menggunakan uang.
Salah satu cara yang terbaik bagi anak-anak untuk  belajar tentang keuangan ialah dengan memberikannya uang saku  Banyak orang tua yang tidak terbiasa memberikan uang saku secara teratur, mereka hanya memberikan uang kepada anak-anak mereka secara tidak teratur dan tidak terencana, dan memberikannya hanya kalau diminta.
Cara pemberian uang yang demikian itu tidaklah mengajarkan kepada mereka bagaimana mengelola uang. Anak-anak harus meminta- minta uang dan orang tua selalu harus memutuskan pada saat itu juga apakah setiap permintaan mereka itu patut dan dapat diberikan atau tidak.


Jika kita memberikan uang saku secara teratur maka masalah-masalah seperti ini dapat  dicegah, namun ada banyak pandangan yang sangat berbeda tentang bagaimana cara yang terbaik untuk memberikan uang saku itu. Ada orang tua yang hanya memberikan uang saku sebagai upah untuk anak-anak yang menyelesaikan tugas-tugasnya di rumah. Ada orang tua lain yang memberikan uang saku secara teratur tetapi kalau tugas-tugas di rumah tidak diselesaikan atau kalau ia nakal, maka sebagai hukuman uang saku itu tidak diberikan.

Banyak orang tua berpendapat bahwa cara-cara ini mendorong anak-anak untuk menjadi baik hanya karena uang, dan memandang tugas-tugas harian di rumah hanya sebagai pekerjaan untuk mendapat upah dan bukan sebagai tanggung jawab yang wajar sebagai anggota keluarga. Selain itu karena uang itu diberikan secara tidak teratur, maka sulit bagi anak-anak itu untuk belajar bagaimana merencanakan anggaran atau menabung penghasilan mereka.

Ada juga orang tua yang memberikan uang saku secara teratur dan jumlahnya pun tetap, mereka tidak menuntut syarat apa-apa. Nampaknya sistem semacam inilah yang paling baik untuk melatih anak-anak belajar membuat anggaran belanja, tetapi memang sistem ini tidak cukup untuk mengajarkan kepada anak-anak kaitan antara kerja dan upah.

Rupanya pendekatan yang terbaik ialah kombinasi dari kedua cara itu. Berikanlah kepada setiap anak sejumlah uang saku secara teratur dan jumlah itu pun harus diperhitungkan sesuai dengan berapa kebutuhan dasar mereka, ditambah lagi dengan sejumlah uang yang dapat mereka pakai sesuai dengan keinginan mereka sendiri. Uang saku jenis ini merupakan uang yang menjadi bagian anak itu dari penghasilan keluarga karena ia merupakan salah seorang anggota keluarga. Selain itu, ia juga bertanggung jawab untuk melaksanakan beberapa tugas di dalam urusan rumah tangga, jika ia tidak memenuhi kewajibannya ia harus didisiplin dengan cara lain dan bukan dengan jalan tidak memberikan uang sakunya. Sebagai penghasilan tambahan ia
dapat diberi upah untuk melakukan pekerjaan ekstra, yaitu pekerjaan yang biasa dilakukan orang lain dengan jalan Anda mengupahnya, misalnya memotong rumput atau mencuci mobil.
Penghasilan tambahan ini akan mengajarkan kepada si anak tentang hubungan antara pekerjaan dan upah. Dan penghasilan yang diperolehnya dengan cara ini dapat dipergunakannya untuk hal - hal yang disenanginya dan bukan untuk kebutuhannya yang dasar.

Efektivitas uang saku untuk membina rasa tanggung jawab dalam soal keuangan dan dalam soal mengenal nilai uang sebagian besar sangat bergantung pada berapa banyak uang yang diberikan dan pada pedoman- pedoman yang Anda berikan dalam hal penggunaan uang itu. Berikut ini terdapat beberapa prinsip yang penting :
   1. Bagaimana cara Anda sendiri mengelola uang Anda merupakan pernyataan yang paling menentukan, tak peduli apa pun yang Anda katakan.
   2. Uang saku harus diberikan secara teratur, tepat pada waktunya, dan tanpa harus
diingatkan. Pemberian uang saku secara teratur merupakan kunci untuk mengajarkan disiplindalam penggunaan uang.
   3. Anda harus menjaga agar sedapat mungkin uang saku itu tidak diberikan sebelum
waktunya. Janganlah memberi lebih atau kurang dari jumlah yang sudah disepakati agar anak Anda dapat belajar mengatur pengeluaran dan pendapatannya itu secara seimbang.
   4. Besarnya uang saku harus didasarkan pada apa yang Anda mau ia lakukan dengan uang itu, dengan mempertimbangkan umur anak, kemampuan, dan kebutuhannya, serta keadaan dalam keluarga.
   5. Tambahkan juga pada jumlah uang sakunya itu sejumlah uang yang dapat dipakai sesuka hatinya agar ia dapat belajar bagaimana memilih dengan bijaksana dalam membelanjakan uangnya.
   6. Anda juga bertanggung jawab untuk melakukan semacam pengawasan agar dapat menjaga supaya pengeluarannya berada dalam batas-batas peraturan dan nilai-nilai yang dijunjung oleh keluarga.
   7. Janganlah memakai uang saku sebagai alat untuk "membeli" kasih sayang.

Berikut ini terdapat beberapa cara untuk menolong agar anak Anda dapat bertanggungjawab dalam soal keuangan:

   1. Mulailah dengan menolong anak-anak Anda yang belum sekolah untuk dapat mengerti tentang berbagai pecahan mata uang lima puluh rupiah, seratus, lima ratus, dan seribu rupiah sambil bermain pasar-pasaran. Selain itu kadang-kadang ajaklah ia untuk ikut pergi berbelanja dengan Anda, dan pada waktu itu berikanlah uang kecil agar ia sendiri dapat membeli apa yang ia mau. Dengan demikian Anda sudah mengajarkan kepada anak Anda bahwa uang adalah sarana untuk jual-beli.
   2. Seorang anak kecil yang sudah mulai bersekolah dapat dipercayakan untuk membeli
makanan kecil, hadiah-hadiah keluarga, dan barang- barang kecil lainnya. Ajarkanlah anak itu pentingnya berbagi dengan pengemis dan bersedekah. Kemudian tolonglah anak itu untuk menyusun anggaran belanjanya pada sehelai kertas, untuk mencatat segala pengeluaran tetap yang menjadi tanggung jawabnya, dan hal-hal lain yang ingin dibelinya. Doronglah untuk
menyisihkan suatu jumlah tertentu untuk ditabung, dan lebih baik lagi jika Anda memberikan satu sasaran jangka panjang.
   3. Di antara umur tujuh dan sembilan tahun, kebanyakan anak sudah siap untuk mulai
mengelola uang saku mingguan dengan mencatat anggaran belanjanya pada sehelai kertas. Hal-hal yang dipilihnya untuk dibeli dari uang tabungannya akan dapat memberikan kepadanya pelajaran yang penting sekali dalam soal keuangan. Dengan bertambah besarnya anak Anda, ia akan dapat menabung untuk pembelian-pembelian yang lebih besar. Jika ia beberapa kali keliru dalam memilih barang yang akan dibeli oleh uang simpanannya maka hal itu akan dengan cepat sekali mengajarkan kepadanya kaitan harga dengan mutu barang yang dibelinya. Biarkanlah anak Anda belajar dengan jalan mengalaminya sendiri walau memang hal itu merupakan pengalaman yang pahit: Janganlah Anda mencoba "menolong" dengan mengganti kerugian yang dideritanya,
dan usahakanlah untuk tidak memberi komentar, "Apa saya bilang!"
   4. Kadang-kadang mengikutsertakan anak yang masih di bawah umur sepuluh tahun dalam membicarakan masalah keuangan keluarga akan merupakan cara yang baik bagi anak itu untuk menyadari bahwa pendapatan rumah tangga itu terbatas, dan bahwa kadang-kadang memang sulit untuk mengambil keputusan tentang yang mana yang harus didahulukan. Dan percakapan keluarga ini juga dapat menjadi waktu yang baik untuk memberikan pengertian kepada anak-anak tentang pajak, asuransi, jaminan sosial, dan masalah kredit. Biarkan anak Anda ikut serta dalam menentukan tentang apakah keluarga Anda akan membeli mobil atau akan mengubah bentuk ruangan. Namun demikian, Anda juga harus memastikan agar anak Anda tidak ikut serta memikul beban keuangan keluarga yang sedang krisis, atau mempunyai perasaan bersalah karena menjadi beban keluarga.
   5. Ingat juga bahwa dengan bertambahnya usia anak Anda, bertambah besar pula kebutuhannya akan uang. Baik sekali jika Anda meninjau kembali besarnya uang saku anak Anda dua kali setahun. Seorang anak remaja perlu dianjurkan untuk mulai bekerja di luar bila ada kesempatan, dan upah yang diperoleh sebagai hasil kerjanya harus dipisahkan dari uang sakunya supaya anggaran belanjanya tetap seimbang. Anda juga dapat mencanangkan agar ia membeli barang yang cukup mahal seperti misalnya membeli sepeda atau sepeda motor, atau apa saja yang masih dalam jangkauannya. Dan ajarkanlah agar ia mendisiplin dirinya untuk menabung secara teratur misalnya dengan menjanjikan untuk menyediakan setengah dari harga barang yang akan dibeli jika anak itu mau menabung yang setengahnya lagi.

Bagaimanapun cara Anda mengatur uang saku anak Anda, ingatlah: pelajaran yang terbaik yang dapat dipelajari oleh anak-anak Anda tentang keuangan itu ialah teladan Anda. Sudahkah Anda sendiri menjadi teladan dalam soal mengatur prioritas, dalam soal menentukan mana yang lebih berharga, dan dalam soal menjadi bendahara Kristen yang baik sebagaimana yang ingin Anda ajarkan kepada anak-anak Anda?

Sumber:
# 40 Cara Mengarahkan Anak, Paul Lewis, , Artikel Anak-anak Anda dan Uang Saku oleh Paul Lewis, halaman 17 - 21, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993.
Disunting Oleh Yan HR (RSP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar